Al-Qur'an, Psikologi dan Stroke 10 Tips Menguatkan Hafalan (Hafalan Juz 30 atau 30 Juz) Profil Singkat Hafsh & ‘Ashim Pendaftaran Peserta Baru 3 Perbedaan Bacaan Al-Qura`n dengan Bahasa Arab Fushha (Fasih & Benar)

Apa Sebenarnya Yang Dimaksud Mushaf Utsmani?

27 Maret 2017 Rumah

Oleh Hartanto Saryono Lc

Mungkin beberapa sahabat muslim sering mendengar istilah mushaf utsmani. Atau mungkin beberapa dari kita ada yang menyimpulkan jika mushaf utsmani itu yang ada alif kecilnya, ada hamzah washalnya dan ada buletan kecilnya dan seterusnya.  Atau juga ada yang mengatakan mushaf utsmani itu lafzhul-jalalah (ALlah)nya tidak diberi tanda panjang. Sehingga menyimpulkan bahwa mushaf ini utsmani dan itu bukan mushaf utsmani. Apakah benar dengan melihat tanda-tanda tersebut bisa mendeteksi mushaf Utsmani atau tidak Utsmani?

Mushaf Kuno di Museum Tashkent, Uzbekistan

Mushaf Kuno di Museum Tashkent, Uzbekiztan

Mengenal Sejarah Penulisan Mushaf

Sebetulnya dengan mengetahui sejarah penulisan mushaf kita bisa mendeteksi apakah tanda-tanda baca tersebut yang menjadi pembeda mana utsmani dan bukan utsmani. Jika ditanya, kapan Al-Quran ditulis? Mungkin banyak yang menjawab bahwa Al-Quran ditulis di masa Khalifah Utsman bin Affan. Padahal sesungguhnya Al-Quran ditulis sejenak setelah wahyu turun kepada RasuluLlah Muhammad ShallaLlahu 'Alaihi wa Sallam.

Kemudian saat pecah perang Yamamah (Riddah) di masa Abu Bakr Ash-Shiddiq, 70 Sahabat yang hafal Al-Quran syahid. Pada saat itu Al-Quran belum dibukukan. Melihat banyaknya orang yang hafal Al-Quran syahid, Umar bin Al-Khathab mengusulkan kepada Abu Bakr supaya dilakukan pembukuan Al-Quran. Semula Abu Bakar menolak memutuskan dilakukan pembukuan Al-Quran dengan alasan hal itu tidak pernah dilakukan RasuluLlah ShallaLlahu 'Alaihi wa Sallam.Namun akhirnya ALlah melapangkan dada Abu Bakr untuk menerima pendapat Umar. Lalu keduanya pun mendatangi Zaid bin Tsabit.

Keduanya pun mendatangi Zaid bin Tsabit guna memintanya supaya bersedia untuk menjadi ketua tim pembukuan Mushaf. Tapi Zaid menolak. Zaid menolak dengan alasan yang Abu Bakr sampaikan; Bagaimana Anda berdua melakukan perbuatan yang belum pernah dilakukan RasuluLlah? Akhirnya ALlah lapangkan dada Zaid untuk menerima usulan dan menjadi ketua tim pembukuan Al-Quran. Hingga tuntaslah tugas tersebut.

Singkat cerita, mushaf Al-Quran yang ditulis Zaid tersebut dipegang oleh Abu Bakr Ash-Shiddiq sebagai khalifah masa itu. Setelah Abu Bakr wafat, mushaf tersebut dipegang Umar. Dan setelah Umar wafat, mushaf dipegang oleh Hafshah binti Umar. Bagaimana Al-Quran di masa Utsman bin Affan?.

Sebagaimana kebiasaan orang Arab pada zamannya, Al-Quran di masa kenabian ditulis tanpa titik, tanpa baris, dan tanpa hamzah. Meski tanpa titik, tanpa baris, & tanpa hamzah, namun mereka tetap bisa membacanya dengan benar dan tidak menjadi masalah bagi mereka.

Hal itu karena bahasa Arab adalah bahasa mereka dan mereka memang ahlinya. Mereka berbicara dan membacanya secara alamiah dan sewajarnya. Kebiasaan menulis tanpa titik, tanpa baris, & tanpa bentuk hamzah ini yang berlaku sampai masa Ali bin Abi Thalib. Jadi, pada masa Utsman bin Affan belum dikenal titik yang membedakan antara huruf-huruf yang mirip. Tidak ada beda antara huruf ba`, ta`, & tsa`. Di masa Utsman, tidak ada perbedaaan bentuk tulisan huruf jim, ha` & kha`. Tidak beda antara dal & dzal. Bentuk ra` & zai pun sama. Bahkan huruf shad, dhad, tha` & zha` memiliki kesamaan bantuk. 'Ain pun sama dengan ghain.

Di masa Utsman juga tidak dikenal baris (syakal/harakat) yang menunjukkan fat-hah, kasrah, dhammah, tanwin, & sukun. Pada intinya di masa Utsman, mushaf Al-Quran bener2 'gundul'. Bukan hanya tanpa harakat (baris), tapi juga tanpa titik pembeda huruf.

Kok bisa mereka tidak salah dlm membaca? Kesalahan berbahasa Arab mulai muncul seiring banyaknya orang non-Arab yang masuk Islam. Mushaf Utsmani berarti nisbat kepada Utsman bin Affan? Artinya mushaf yang ditulis & diduplikasi di masa Utsman.

Contoh Mushaf tanpa tanda pembeda huruf dan tanda harakat

Contoh Mushaf tanpa tanda pembeda huruf dan tanda harakat

Bagaimana orang bisa menisbatkan waw kecil, ya kecil, alif kecil, hamzah washal, hamzah qath' kepada Utsman bin Affan? Padahal di zaman Utsman tanda-tanda tersebut belum ada. Masih bersih dari tanda apa pun.

Maka dapat disimpulkan keliru jika memahami mushaf utsmani karena tanda waw kecil, ya kecil, alif kecil, hamzah washal dst. Lalu, kapan mulai ada tanda2 baca, titik pembeda huruf, & hamzah?

Penyebaran Mushaf Di Masa Awal

Islam mulai menyebar ke penjuru bumi. Orang-orang non-Arab masuk Islam dan berbaur dengan orang-orang Arab. Kesalahan berbahasa pun mulai ada. Sejak saat itu para ulama mulai terdorong untuk meletakkan tanda-tanda i'rab (sintaksis) agar menjadi acuan khalayak ramai.

Di saat yang sama, mulai diletakkan tanda-tanda i'rab pada mushaf Al-Quran yakni, di masa Ali bin Abi Thalib. Tanda i'rab adalah tanda fat-hah, kasrah, & dhammah yang menunjukkan kedudukan suatu kata dlm sebuah kalimat. Tanda2 i'rab itulah yang kemudian menjadi disiplin ilmu bernama ilmu nahwu dalam bahasa Arab. Itu baru ada di zaman Ali bin Abi Thalib. Sebelum masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib belum ada tanda apa-apa. Tanda i'rab-lah yang pertama kali ada. 

Adalah Abul Aswad Ad-Du`ali (W. 69 H) yang diminta utk meletakkan tanda-tanda baca dalam Al-Quran. Tapi ia menolak permintaan itu. Abul Aswad menolak dengan alasan RasuluLlah ShallaLahu 'Alaihi wa Sallam tidak melakukannya dan demi menjaga keaslian Al-Quran. Abul Aswad menolak. Lalu siapa yang menyanggupi? Bagaimana kisahnya? Bagaimana bisa ada tanda-tanda baca itu? Langsung jadi tanda seperti sekarang?

Mushaf yang 'dicetak' di masa Utsman bin Affan berjumlah 8. Meski ada beda pendapat tentang jumlah ini. Ada yang menyebutkan 6. Semua mushaf itu disebut Al-Mushaf Al-Imam (mushaf yang menjadi rujukan/panutan). Bukan Mushaf Al-Imam (Mushafnya Imam).

Dari 8 mushaf tersebut; 1 dipegang Utsman bin Affan, 1 untuk penduduk Madinah, 1 dikirim ke Makkah, 1 ke Yaman, 1 ke Al-Bahrain, 1 ke Kufah, 1 ke Bashrah, & 1 ke Syam. Dikirim pula guru yang mengajarkan Al-Quran bersamaan dengan mushaf-mushaf tersebut. Mushaf-mushaf itu disebut juga Al-Mushaf Al-'Utsmani. Al-'Utsmani nisbat kepada Utsman bin Affan karena beliau yang memerintah waktu itu.

Manuskrip Al-Qur`an tua yang terdapat di Universitas Birmingham

Manuskrip Al-Quran tua yang terdapat di Universitas Birmingham

Peletakan Tanda I’rab

Sebagaimana yang telah dijelaskan, pada mushaf-mushaf Utsmani tersebut tidak ada titik pembeda huruf, tidak ada baris, & tidak ada bentuk tulisan hamzah. Jadi yang dinisbatkan kepada Utsman bin Affan itu bukan tanda-tanda baca yang sekarang kita kenal. Akan tetapi kerangka hurufnya.

Karena hingga masa Utsman, dalam tulisan orang Arab belum mengenal titik pembeda huruf, tanda baca (baris), & juga bentuk huruf hamzah. Di masa Ali bin Thalib baru mulai ada pemberian tanda baca. Namun belum ada titik pembeda huruf-huruf yang memiliki kemiripan bentuk. Abul Aswad Ad-Du`ali yang diminta untuk memberikan tanda baca dalam Al-Quran & meletakkan dasar-dasar ilmu nahwu (tata bhs Arab). Semula ia menolak. Ia baru tersadar akan pentingnya pemberian tanda baca saat mendengar orang salah membaca ayat Al-Quran.

Ia mendengar org membaca surat At-Taubah ayat 3: ( أَنَّ اللَّهَ بَرِيءٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ۙ وَرَسُولُهُ ۚ ) . "Sesungguhnya ALlah berlepas diri dari org2 musyrik, dan (demikian pula) Rasul-Nya (jg berlepas diri dr org2 musyrik)." Tapi laki-laki itu salah baca menjadi: "AnnaLlaaha barii`um minal-musyrikiina wa rasuulih" dengan kasrah pada huruf lam dari kata "rasuul". Maknanya pun berubah menjadi "sungguh ALlah berlepas diri dari orang-orang musyrik & Rasul-Nya". SubhanaLlah! Maknanya berubah fatal.

Maknanya berubah hanya karena perubahan baris (harakat) pada satu huruf. Bagaimana sekiranya banyak huruf & baris yang berubah? Karena mendengar bacaan tersebut, Abul Aswad pun menyetujui permintaan untuk meletakkan tanda baca dalam Al-Quran dan dasar-dasar ilmu nahwu.

Abul Aswad menjadikan tanda fat-hah berupa satu titik berwarna merah di atas huruf berharakat fat-hah. Untuk tanda dhammah, ia letakkan satu titik berwarna merah di hadapan (setelah) huruf berharakat dhammah. Ia letakkan satu titik berwarna merah di bawah huruf berharakat kasrah & dua titik berwarna merah sebagai tanda tanwin.

Ia gunakan tinta berwarna merah agar dapat dibedakan antara tulisan asli yang disalin di masa Utsman dengan yang merupakan tambahan. Itu terjadi di masa Ali bin Abi Thalib. Belum ada tanda selain titik-titik tersebut. Lalu bagaimana orang bisa mengatakan bahwa tanda-tanda baca itu Utsmani?

Semakin banyaknya org non-Arab yang masuk Islam ternyata sangat berpengaruh terhadap keaslian & kefasihan bahasa Arab. Terlebih kala itu belum ada yang membedakan antara huruf-huruf yang bentuknya sama. Ba`, ta`, & tsa` misalnya. Ditulis tanpa titik.

 

Peletakan Titik I’jam (Pembeda Huruf)

Adalah Nashr bin 'Ashim Al-Laitsi (W 90 H) yang menemukan tanda berupa garis miring kecil utk membedakan huruf-huruf yang bentuknya sama. Kenapa bukan titik seperti yang sekarang kita jumpai? Karena titik pada waktu itu telah digunakan oleh Abul Aswad untuk menunjukkan baris.

Jika Nashr bin 'Ashim wafat th 90 H, maka pemberian tanda titik pembeda huruf sekitar th 70-90 H. Pemberian titik tersebut setelah sekian puluh tahun Utsman bin Affan wafat. Di masa Utsman belum ada tanda2 spt yang sekarang kita jumpai. Titik yang menunjukkan baris (harakat) yang semula berupa titik berwarna merah berubah menjadi huruf madd kecil.

Titik merah di atas huruf sebagai tanda fat-hah yang diletakkan Abul Aswad diubah menjadi huruf alif. Tanda kasrah yang semula berupa titik warna merah di bawah huruf diubah menjadi ya`. Dhammah yang tadinya titik berwarna merah di setelah huruf diubah menjadi waw.

Karena titik-titik tersebut diubah, maka garis kecil yang merupakan pembeda huruf itu diubah menjadi titik yang sekarang kita kenal. Namun titiknya masih sangat 'klasik'. Titik tiga huruf tsa` (ث) yang sekarang berbentuk piramida dahulu ditulis berjajar.Titik tiga pada huruf syin (ش) yang berbentuk piramida, dahulu ditulis berjajar tepat di atas 'gigi' huruf syin tersebut.

Jadi, pemberian titik pembeda huruf & harakat (fat-hah, kasrah, dhammah) jelas tidak ada di masa Utsman bin Affan.

Bentuk tulisan huruf hamzah di masa Utsman juga belum ada. Al-Khalil bin Ahmad Al-Farahidi (W 175 H) yang menemukan bentuk hamzah. Hamzah (qath') (ء) yang ditemukan Al-Khalil diambil dari kepala huruf 'ain (ع).

Meskipun belum ada bentuk tulisannya, sejak dahulu orang Arab sudah mengucapkan huruf hamzah dalam keseharian mereka. Orang Arab di masa kenabian RasuluLlah tdk ada yang salah membaca hamzah meskipun tidak ada bentuk tulisannya.

Lalu, bagaimana mrk menuliskan hamzah? Apakah benar2 tdk ada hurufnya?

Sebelum mengenal bentuk huruf hamzah, mereka menggunakan huruf alif, waw, & ya` sbg pengganti huruf hamzah. Bahkan tak jarang huruf hamzah tidak ditulis. Tidak ditulis dengan bentuk huruf apa pun. Tapi dalam pengucapan ada bunyinya.

Untuk menulis hamzah di permulaan kata, mereka menggunakan huruf alif. Contoh: kata (أنزل) "unzila" dahulu ditulis dg (انزل). Bedanya, (أنزل) "unzila" masa kini ditulis dengan hamzah di atas alif. Sedangkan di masa lalu ditulis tanpa hamzah (انزل).  Dalam menuliskan hamzah di tengah kata & akhir kata, mereka menggunakan bentuk huruf alif, waw, & ya`. Atau tanpa bentuk tulisan.

Mereka menulis hamzah dengan bentuk alif. Contoh: kata (سأل) "sa`ala" dengan hamzah dahulu ditulis dengan alif tanpa bentuk hamzah (سال). Kadang menggunakan huruf waw sebagai pengganti huruf hamzah. Contoh: kata (سؤال) "su`aal" dahulu ditulis (سوال) tanpa bentuk hamzah.

Huruf ya` juga digunakan sebagai pengganti bentuk huruf hamzah. Misal: kata (سئل) "su`ila" dahulu ditulis (سيل) dengan ya` tanpa titik. Meski ditulis dengan bentuk huruf lain, namun orang Arab di masa itu tidak ada yang salah dalam membaca & mengucapkan.

Contoh hamzah yang tdk dituliskan: kata (براءة) "baraa`ah" dahulu ditulis (براة) tanpa hamzah & tanpa bentuk huruf apa pun. Hamzah yang tidak ditulis dengan bentuk apa pun adalah hamzah yang sekarang ditulis di atas garis. Contoh lain: (ماء) "maa`" ditulis (ما).

Itu perkembangan penulisan hamzah qath' (همزة القطع). Bagaimana dengan hamzah washl (همزة الوصل)? Ada di masa Utsman?


Artikel terkait:

blog comments powered by Disqus

Temukan kami di sini: