Al-Qur'an, Psikologi dan Stroke 10 Tips Menguatkan Hafalan (Hafalan Juz 30 atau 30 Juz) Profil Singkat Hafsh & ‘Ashim Pendaftaran Peserta Baru 3 Perbedaan Bacaan Al-Qura`n dengan Bahasa Arab Fushha (Fasih & Benar)

Jangan Memulai Tilawah dari Awal 7 Juz Ini (Agar Makna Sempurna)

20 Maret 2017 Rumah

Oleh: Hartanto Saryono

Bagi sahabat muslim yang sedang semangat mengkhatamkan Al-Quran, mungkin seringkali kita  berhenti tilawah di akhir juz lalu memulai kembali dari awal juz berikutnya.

Padahal ada beberapa awal juz yang jika kita memulai darinya, maknanya jadi tidak sempurna atau tidak bisa difahami dari makna yang seharusnya.

Berikut ini 7 Permulaan Juz yang tidak disarankan memulai darinya.

Pertama, 

Awal Juz 5 (kelima) yang dimulai dengan (…والمحصنات من النساء). "dan wanita-wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki..".

 

 Awal juz 5

 

Jika kita telusuri maknanya, ada apa dengan wanita-wanita yang bersuami? Keterangannya apa? Sampai akhir Al-Quran maka tidak akan kita temukan tentang kenapa wanita-wanita tersebut. 

 

Adapun jika ditemukan terjemahan Kalimat "diharamkan pula atas kalian menikahi" itu merupakan terjemahan tambahan yang mana dalam redaksi pada ayat 24 surat An-Nisaa` tersebut tidak ada. 

 

Redaksi yang dalam Al-Quran terjemahan diletakkan dalam kurung tersebut adalah penjelas yang diambil dari ayat sebelumnya (ayat 23).

 

Maka, makna awal juz kelima tersebut tidak sempurna jika tanpa awal ayat 23, yakni (..حرمت عليكم) "diharamkan atas kalian menikahi." Meskipun akhir juz keempat tersebut memiliki makna yang baik & tidak keliru. Namun awal juz kelima akan tidak bermakna tanpa akhir juz keempat.

 

Oleh karena itu, jika ingin memulai bacaan, mulailah dari awal ayat 23. Atau mulai dari ayat 26. Maksudnya, ketika mengakhiri bacaan sebelumnya, akhirilah di penghujung ayat 25. Lalu ketika hendak membaca kembali tinggal lanjutkan ke ayat 26.

 

Kedua, 

 

Awal Juz 13 (ketiga belas). Yakni surat Yusuf: 53. (وما أبرئ نفسي).  "dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas dari (kesalahan)". 

 

 

 

Pernyataan ini bukanlah pernyataan ALlah, melainkan pernyataan istri Al-Aziz atau Yusuf.  Memulai bacaan dari permulaan surat Yusuf: 53, berarti menisbatkan perkataan tersebut kepada ALlah. 

 

Padahal ALlah mengutip perkataan manusia. SubhanaLlah! Bagaimana ALlah mengatakan perkataan tersebut? Sekiranya kita faham, niscaya tidak akan memulai dari ayat tersebut.

 

Lalu sebaiknya mulai dari mana? Sebaiknya memulai bacaan dari ayat ke-50 sehingga subjek yang mengatakan (وما أبرئ نفسي) bukan ALlah. Atau mengakhiri bacaan di akhir ayat 57, kemudian memulai dari ayat 58. Ibnu Katsir menguatkan pendapat yang menyebutkan bahwa subjek yang mengatakan "dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas dari (kesalahan)" adalah istri Al-Aziz.

 

Ketiga, 

 

Permulaan Juz 20 (kedua puluh). Yakni surat An-Naml: 56. (فما كان جواب قومه إلا أن قالوا أخرجوا آل لوط). Terjemahan penggalan ayat tersebut; "Jawaban kaumnya tidak lain hanya dengan mengatakan, "Usirlah Luth & keluarganya..."". Di ayat tersebut terdapat kata ganti untuk laki-laki tunggal (ha` dhamir) (dia/nya) yakni pada kata (قومه): "kaumnya". 

 

 

 

Dalam bahasa Arab, dhamir (kata ganti) dikembalikan ke kata yang paling dekat (akhir-akhir) disebutkan sebelumnya. Jika seorang pembaca memulai dengan isti'adzah (ta'awwudz) saja, maka kata yang terakhir-terakhir disebut adalah setan.

 

Sehingga kata ganti "nya" pada "kaumnya" bermakna "kaum(nya) setan". Padahal maksudnya kaum Luth. Berubah total dan salah fatal. Tahu dari mana bahwa yang dimaksud "nya" pada kata "kaumnya" adalah Luth? Dari ayat sebelumnya, yaitu ayat 54 dari surat An-Naml.

 

Jika memulai dengan "basmalah" (bismiLlaahi..dan seterusnya), maka yang dimaksud "nya" dari kata "kaumnya" adalah ALlah. Sehingga menjadi "kaum(Nya) ALlah", hal ini juga fatal. 

 

Lalu dari mana memulai bacaan? Mulailah dari ayat 54 atau akan lebih sempurna jika memulai dari ayat 45 dari surat An-Naml. Atau mengakhiri bacaan di ayat 58, lalu nanti memulai dari ayat 59. Dengan demikian kalimatnya menjadi sempurna. 

 

Keempat, 

 

Awal Juz 22 (keduapuluh-dua), yakni surat Al-Ahzab ayat 31. (ومن يقنت منكن). "Dan barangsiapa di antara kamu (perempuan jamak)..."

 

 

 

Siapakah yang dimaksud "kamu (perempuan jamak)" pada ayat ini? Jika tidak membaca ayat 30, maka tidak akan dijumpai keterangannya. 

 

Di Al-Quran terjemahan tertulis "istri-istri Nabi" yang diletakkan di antara dua kurung yang menunjukkan bahwa pada redaksi ayatnya tidak ada.

 

Di ayat 31 tidak ada kata-kata "nisaa` an-Nabiy" (istri-istri Nabi). Maka jika mulai membaca dari awal juz 22 tersebut kalimatnya tidak pernah sempurna. Secara kalimat, ayat 30 (akhir juz 21) memberikan makna yang baik dan tidak menyimpang. Namun ayat 31 tidak sempurna tanpa ayat 30.

 

Maka jika mau membaca supaya maknanya sempurna setidaknya memulai dari ayat 30 atau lebih sempurna lagi memulai dari ayat 28. Atau mengakhiri tilawah juz 21 di ayat 34, lalu tilawah juz 22-nya mulai dari ayat 35. 


Kelima; 

 

Awal Juz 23 (Keduapuluh-tiga) surat Yaasiin ayat 28. (وما أنزلنا على قومه من بعده من جند) "Dan setelah dia (meninggal), Kami …...tidak menurunkan suatu pasukan pun..." Awal juz ini mirip dengan awal juz 20. Yakni ada kata ganti "dia"/"nya" laki-laki tunggal.

 

 

 

Kata "dia" pada kalimat "setelah dia" adalah ganti (dhamir) dari "seorang laki-laki" (رجل) yang disebutkan di ayat 20 surat Yaasiin tersebut. Jika memulai bacaan dari awal juz 23 (ayat 28), maka kata ganti tersebut menggantikan kata yang terakhir-terakhir disebut; ALlah atau setan.

 

Menggantikan kata "ALlah" jika memulai dengan basmalah. Menggantikan "setan" jika memulai dengan isti'adzah (ta'awwudz). Oleh karena itu, memulai bacaan dari surat Yaasiin ayat 28 (awal juz 23) akan mengubah makna ayat. 

 

Jika ingin memulai bacaan juz 23, mulailah dari ayat 20, atau akan lebih sempurna dengan memulai dari ayat 13. Mengakhiri bacaan di ayat 27 (akhir juz 22) tidak mengubah makna kalimat. Tapi ayat 28 tidak sempurna tanpa ayat-ayat sebelumnya. Atau akhirilah bacaan juz 22 di ayat 50 dan memulai dari ayat 51. Itu lebih aman karena temanya sempurna. 

 

Keenam, 

 

Awal juz yang tidak dianjurkan memulai darinya; Awal Juz 25 (Keduapuluh-lima), surat Fushshilat ayat 47. (إليه يرد علم الساعة)

 

 

 

Pada awal juz ini terdapat kata ganti (dhamir) seperti awal juz 23. "Hanya kepada-Nyalah ilmu tentang hari Kiamat itu dikembalikan." Kata ganti "nya" pada ayat 47 menggantikan kata "ALlah" (Rabb: Tuhan) yang disebut pada ayat 46. Maka ayat 47 tidak sempurna tanpa ayat 46.

 

Dalam bahasa Arab tidak dibedakan "dia" untuk ALlah atau pun untuk selain ALlah seperti dalam bahasa Indonesia (Dia/Nya). Maka para ulama menekankan jika ingin memulai dari ayat 47, mulailah dengan "basmalah" (BismiLlaahirrahmaanirrahiim).

 

Dengan demikian kata ganti tersebut tetap kembali ke ALlah meskipun tanpa ayat 46. Namun jika setelah isti'adzah (ta'awwudz) tidak membaca basmalah, kata ganti berubah menjadi milik setan. 

 

Sehingga bermakna, "Kepada setan". Maknanya berubah dari "kepada ALlah dikembalikan ilmu tentang hari Kiamat" menjadi "kepada setan dikembalikan ilmu tentang hari Kiamat". Fatal bukan? 

 

Jika ingin lebih sempurna, mulailah juz 25 dari ayat 45. Atau akhiri tilawah juz 24 di akhir surat Fushshilat. Selanjutnya memulai bacaan dari surat Asy-Syura. Jangan pelit-pelit, menambah 1 halaman juz 25 untuk juz 24. Anda tidak akan rugi!

 

Ketujuh, 

 

Awal Juz 27 (Keduapuluh-tujuh). (قال فما خطبكم). "Dia berkata; apakah urusanmu yang penting..."

 

 

Siapakah yang disebut "dia" yang berkata tersebut? Jika dalam terjemahan terdapat kata "Ibrahim" sebagai subjek yang diletakkan di antara dua kurung. Jika memulai bacaan dengan "basmalah" maka yang mengatakan kalimat tersebut adalah ALlah. Maknanya berubah menjadi "Dia (ALlah) berkata.."

 

Jika memulai bacaan dengan isti'adzah, maka yang mengatakan kalimat menjadi setan. "dia (setan) berkata.." Maknanya berubah total.

 

Awal juz 27 (surat Adz-Dzariyat ayat 31) tidak sempurna tanpa kalimat-kalimat di ayat-ayat sebelumnya. 

 

Jika ingin memulai juz 27 dengan sempurna, mulailah dari ayat 24. Dengan alur yang mengalir tersebut, maka kata "dia" pada ayat 31 bisa dimengerti bahwa dia adalah Ibrahim. Atau bisa juga mengakhiri tilawah juz 26 di ayat 46 lalu memulai dari ayat 47. Atau mengakhiri bacaan di akhir surat sekalian.

 

Itulah juz-juz yang tidak dianjurkan memulai dari awal juz tersebut. Semoga bermanfaat.

Tags:

juz tilawah mulai

Artikel terkait:

blog comments powered by Disqus

Temukan kami di sini: